-->
Ruang Berita

Minim Sosialisasi, Petani Pilih Jual Ke Pedagang

Pinrang - Di balik hamparan sawah hijau di Pinrang, tersimpan keluhan hati petani yang merasa berjalan sendiri menjaga ketahanan pangan negeri. Salah seorang petani milenial di Kelurahan Marawi, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang, mengungkapkan kegelisahannya terhadap minimnya peran aktif Bulog Pinrang dalam menyerap hasil panen gabah mereka.

“Selama ini, kami di kampung tidak pernah jual hasil panen kami ke Bulog,” ujarnya pada Selasa (22/4/2025), memilih untuk tak menyebutkan identitas.

Menurutnya, tidak adanya akses komunikasi yang jelas membuat hubungan antara petani dan Bulog seolah terputus. “Kalau pun kita bisa telepon, apa mereka bisa langsung datang untuk timbang?” tanyanya lirih.

Yang lebih menyakitkan, lanjutnya, tidak ada satupun sosialisasi atau pendekatan dari pihak Bulog sebelum musim panen. Petani, yang seharusnya menjadi mitra strategis negara dalam menjaga ketahanan pangan, justru merasa diabaikan.

“Kalau pun kita mau jual ke Bulog, bagaimana caranya? Siapa yang dihubungi? Kami tidak tahu. Mau tak mau, kami langsung hubungi pedagang,” tuturnya dengan nada kecewa.

Waktu panen yang singkat dan risiko gabah rusak karena cuaca membuat situasi makin genting. “Satu hari saja gabah tidak diambil, bisa rusak. Kalau kena hujan, harga turun. Petani yang rugi lagi,” tambahnya.

Ia pun berharap agar Bulog lebih aktif hadir di tengah-tengah petani. Pinrang, sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Sulawesi Selatan, dinilainya layak mendapatkan perhatian lebih dari lembaga yang seharusnya menjadi tangan panjang negara.

“Petani pikirannya sederhana. Kalau ada yang mau ambil gabah dengan harga yang disepakati, ya langsung angkut. Dari pada tunggu Bulog yang tidak pasti, lebih baik ke pedagang,” pungkasnya.




0


Scroll to Top