-->
Pinrang – Pemerintah Kabupaten Pinrang kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung program swasembada pangan nasional melalui pelaksanaan Gerakan Tanam Serempak Lokasi Optimalisasi Lahan (Oplah) 2024 dan 2025 serta Lahan Corporate Social Responsibility (CSR) 2025 yang berlangsung di Kelurahan Samaturue, Kecamatan Tiroang, Jumat (22/5).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan nasional yang diikuti sejumlah daerah di Indonesia dan terhubung secara virtual melalui video conference dengan total luas areal tanam mencapai 50.000 hektare. Program ini menjadi salah satu upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Pinrang, Sekretaris Daerah Kabupaten Pinrang, A. Calo Kerrang, menyampaikan bahwa Kabupaten Pinrang sebagai salah satu lumbung pangan di Provinsi Sulawesi Selatan akan terus berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan melalui peningkatan produktivitas sektor pertanian.
Menurutnya, pelaksanaan Program Optimalisasi Lahan (Oplah) bersama pemanfaatan lahan melalui dukungan CSR diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman dan hasil produksi padi, sehingga memberikan manfaat nyata bagi petani maupun masyarakat secara luas.
"Melalui program ini, kita berharap para petani dapat memperoleh hasil panen yang maksimal sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani," ujar A. Calo Kerrang.
Ia menambahkan, keberhasilan musim tanam tidak hanya ditentukan oleh kesiapan lahan dan sarana produksi, tetapi juga membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta seluruh pemangku kepentingan. Komunikasi yang baik, menurutnya, menjadi faktor penting untuk mengatasi berbagai tantangan yang mungkin dihadapi selama proses budidaya.
"Kami berharap seluruh pihak terus memperkuat koordinasi dan kerja sama agar setiap kendala di lapangan dapat segera diselesaikan. Dengan demikian, pelaksanaan musim tanam dapat berjalan optimal dan target produksi pangan dapat tercapai," lanjutnya.
Lebih jauh, Sekda menegaskan bahwa keberhasilan program swasembada pangan tidak hanya diukur dari meningkatnya produksi pertanian, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Ketersediaan pangan yang terjaga, stabilitas harga, serta meningkatnya pendapatan petani menjadi indikator penting dalam mewujudkan pembangunan pertanian yang berkelanjutan.