-->
RUANG-LIPUTAN.COM, MAKASSAR - Upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia di Sulawesi Selatan terus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas penerima beasiswa. Salah satunya melalui Program Penguatan Mata Pelajaran Khusus (PPMK) 2026 yang digagas Mata Garuda LPDP Sulawesi Selatan bersama Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.
Memasuki tahun kedua pelaksanaan, PPMK kini menjangkau 212 sekolah, terdiri atas 174 SMA dan 38 SMK, dengan total 726 kelas yang terlibat dalam program.
Ketua Panitia PPMK 2026, Dedi Risaldi, mengatakan perluasan cakupan sekolah menjadi bagian dari upaya memperkuat dampak program terhadap peningkatan kompetensi peserta didik di Sulawesi Selatan.
“Tahun ini kami bisa lebih adaptif, dan menyusun kurikulum sebanyak 40 kali pertemuan setiap kelas. Agar capain pembelajaran bisa maksimal,” terang Dedi saat memberikan laporan pada Kegiatan Penyamaan Persepsi dan Bimtek Tenaga Pengajar PPMK, malam tadi (2/9/2026).
Program tersebut melibatkan 261 tenaga pengajar yang merupakan penerima dan alumni beasiswa LPDP jenjang magister (S2) dan doktor (S3). Mereka memiliki latar belakang pendidikan dari berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri serta berasal dari disiplin ilmu yang beragam.
Ketua Mata Garuda LPDP Sulawesi Selatan, Asri Ismail, mengatakan keberagaman latar akademik para pengajar menjadi salah satu modal penting dalam membangun ekosistem pembelajaran yang lebih kaya bagi siswa.
“Keberagaman perguruan tinggi dan latar belakang akademik para pengajar menjadi modal intelektual untuk memperkaya proses pembelajaran yang kita lakukan,” kata Asri dalam kegiatan Penyamaan Persepsi dan Bimbingan Teknis Tenaga Pengajar PPMK 2026, Rabu, 2 September 2026.
Pada 2026, PPMK memfokuskan pembelajaran pada enam mata pelajaran, yakni Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika.
Asri menjelaskan, para pengajar tidak diarahkan sebatas menyampaikan materi pelajaran. Kehadiran penerima dan alumni LPDP S2 dan S3 tersebut diharapkan dapat membawa pengalaman akademik, budaya belajar, serta perspektif yang dapat memperluas horizon pendidikan peserta didik.
“Kita merekrut para pengajar ini untuk membangun sebuah fondasi besar dengan menjadikan ruang kelas sebagai ruang transformasi. Mereka hadir untuk menjadi contoh atau role model, memberikan motivasi, dan yang paling penting membangun kepercayaan diri peserta didik,” ujarnya.
Menurut Asri, ruang kelas perlu dikembangkan menjadi lingkungan yang memungkinkan peserta didik berinteraksi, berdiskusi, menguji gagasan, serta mengembangkan kemampuan akademiknya secara lebih aktif.
Karena itu, tenaga pengajar PPMK didorong menerapkan metode pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Kita berharap para pengajar menghadirkan integritas dan profesionalisme dengan metode pembelajaran yang inovatif, sehingga proses belajar mampu memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi siswa,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Iqbal Nadjamuddin, mengapresiasi konsistensi Mata Garuda Sulsel dan para penerima serta alumni LPDP yang terlibat dalam program tersebut.
Menurut Iqbal, kolaborasi antara pemerintah, komunitas alumni beasiswa, sekolah, dan tenaga pengajar merupakan pendekatan yang efektif untuk memperkuat kualitas pendidikan.
“Ini merupakan kolaborasi yang sangat efektif. Kita berharap melalui program ini kita dapat terus memberikan kontribusi bagi Sulawesi Selatan, terutama dalam bidang pendidikan,” ujar Iqbal.
Ia menilai penerima beasiswa LPDP merupakan sumber daya manusia yang telah melalui proses seleksi dan memiliki kapasitas akademik yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan siswa.
“Seluruh yang sudah mendapatkan LPDP tentu merupakan orang-orang pilihan. Potensi ini perlu kita manfaatkan untuk bersama-sama membantu meningkatkan kompetensi anak-anak kita,” katanya.
Namun, menurut Iqbal, pelaksanaan program dengan cakupan yang besar harus dibarengi dengan sistem monitoring dan evaluasi yang kuat.
Evaluasi diperlukan untuk melihat perubahan yang terjadi pada peserta didik sekaligus memastikan bahwa pembelajaran yang diberikan menghasilkan dampak yang dapat diukur.
“Tentu perlu dilakukan monitoring dan evaluasi. Kita perlu melihat sejauh mana dampaknya dan perubahan apa yang terjadi terhadap kompetensi peserta didik setelah mengikuti program ini,” katanya.
Iqbal juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh tenaga pengajar yang telah bersedia terlibat serta konsisten dalam pelaksanaan PPMK.
“Mewakili Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada teman-teman pengajar yang telah bergabung dan konsisten dalam pelaksanaan program mata pelajaran khusus ini,” ujarnya.
Ia berharap PPMK dapat ikut memperkuat daya saing generasi muda Sulawesi Selatan dalam menghadapi kompetisi pendidikan pada tingkat regional maupun nasional.
Pelaksanaan PPMK 2026 juga mengalami penguatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2025, program dilaksanakan dengan skema hybrid, yakni kombinasi pembelajaran daring dan luring. Mata pelajaran yang dikembangkan ketika itu meliputi Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Mandarin, Matematika, dan Koding.
Sementara pada 2026, proses pembelajaran difokuskan secara luring dengan dukungan Learning Management System (LMS).
Penggunaan LMS diarahkan untuk membantu pengelolaan materi, aktivitas pembelajaran, dokumentasi proses belajar, serta pemantauan perkembangan peserta didik secara lebih sistematis.
PPMK juga dirancang dengan capaian pembelajaran yang lebih terukur.
Pada mata pelajaran bahasa, peserta didik ditargetkan mampu berdialog secara aktif menggunakan bahasa yang dipelajari dalam konteks komunikasi formal maupun informal.
Peserta didik juga diarahkan mampu menulis teks sederhana, membaca teks tingkat menengah, serta memahami percakapan sehari-hari dalam bahasa target.
Selain meningkatkan keterampilan berbahasa, pembelajaran diarahkan untuk membangun kemampuan komunikasi lintas budaya serta meningkatkan kesiapan siswa menghadapi ujian bahasa internasional.
Sementara pada kelompok Matematika dan Sains, peserta didik ditargetkan mampu menguasai konsep dan keterampilan pemecahan masalah pada tingkat menengah hingga lanjutan.Kemampuan tersebut diukur antara lain melalui persiapan menghadapi olimpiade dan Tes Kemampuan Akademik (TKA).