-->
Pinrang – Di balik keterbatasan fisiknya, Ali Topan (39) membuktikan bahwa semangat dan kepedulian terhadap lingkungan mampu mengatasi segala rintangan. Warga asal Kabupaten Pinrang ini dikenal sebagai sosok yang gigih dalam mengelola Bank Sampah Peduli Pinrang, sebuah inisiatif pengelolaan sampah berbasis komunitas yang telah membawa perubahan nyata bagi masyarakat.
Perjuangan Mengatasi Keterbatasan
Ali Topan mengalami kelumpuhan di kedua kakinya akibat kecelakaan kerja pada tahun 2015. Sejak saat itu, ia harus menggunakan alat bantu untuk beraktivitas. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk terus berbuat bagi lingkungan. Dengan keterbatasan fisik yang ia miliki, Ali tetap aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah dan menjaga kelestarian alam.
Mendirikan Bank Sampah Peduli Pinrang
Kepedulian Ali terhadap lingkungan mendorongnya untuk mendirikan Bank Sampah Peduli Pinrang di Kecamatan Paleteang, Pinrang. Berawal dari bangunan sederhana berukuran 10x20 meter yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Pinrang, bank sampah ini berkembang pesat. Kini, Bank Sampah Peduli Pinrang memiliki sekitar 30 unit bank sampah yang tersebar di berbagai daerah di Pinrang.
Selain itu, Ali Topan dan timnya tengah mengembangkan aplikasi online untuk mempermudah transaksi sampah serta bekerja sama dengan pemerintah dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya daur ulang dan pengelolaan sampah yang lebih baik.
Pengakuan atas Dedikasi
Perjuangan Ali Topan tidak sia-sia. Pada tahun 2021, ia masuk dalam nominasi Penghargaan Kalpataru, sebuah penghargaan nasional yang diberikan kepada individu atau organisasi yang berjasa dalam perlindungan lingkungan. Tahun berikutnya, ia juga menerima penghargaan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dari Kementerian Sosial RI atas kontribusinya dalam kegiatan kemanusiaan dan tanggap bencana.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Kisah Ali Topan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
"Kaki mungkin tak bisa berjalan, tapi otak bisa berpikir dan bergerak. Kekurangan bukan akhir dari hidup, jangan lupa selalu bersyukur," ujarnya.
Dukungan dari keluarga, terutama sang istri, Sintya Rahmawati, serta anaknya, Sitti Azzahra, menjadi sumber kekuatan Ali dalam menjalankan misinya. Ia juga mengapresiasi peran orang tuanya, almarhum Samsong P. Lama yang bekerja sebagai tukang batu, serta ibunya, Nuru, seorang ibu rumah tangga yang tanpa pendidikan formal namun mampu mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kebaikan.
Melalui kerja keras dan ketulusannya, Ali Topan membuktikan bahwa setiap individu bisa berperan dalam menjaga lingkungan, terlepas dari keterbatasan yang dimiliki. Semangatnya menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus berjuang dan berkontribusi bagi alam dan sesama.