-->
Ruang Berita

Dicap Gagal Serap Gabah Petani, Bulog Pinrang Didesak Berbenah

PINRANG — Kinerja Perum Bulog Cabang Pinrang menjadi sorotan tajam usai dinilai tidak optimal dalam menyerap gabah petani pada panen raya awal tahun 2025. Kritik datang dari berbagai pihak, termasuk DPRD dan Serikat Petani Indonesia (SPI), yang menilai lemahnya sistem penyerapan telah merugikan petani dan mengancam ketahanan pangan daerah.

Sebagai respons atas kegagalan tersebut, Bulog bersama Pemerintah Kabupaten Pinrang dan DPRD menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Rabu (30/4/2025). Kesepakatan ini diharapkan menjadi awal dari perbaikan menyeluruh dalam penanganan gabah petani, terutama di tengah sorotan publik yang makin keras.

Menurut perwakilan SPI, Abdul Rasyid, ketidaktahuan petani mengenai mekanisme serapan menjadi salah satu akar masalah. “Petani, terutama yang lanjut usia, sering tak mendapat informasi terkait serapan. Sosialisasi perlu diperkuat. Begitu pula kejelasan skema pembelian langsung dari petani,” ungkapnya.

Sementara itu, DPRD menuding keterbatasan mitra Bulog sebagai pemicu utama lambannya penyerapan. Anggota DPRD Pinrang, Andi Pallawagau, bahkan menyebut Bulog tak melibatkan DPRD dalam rapat-rapat evaluasi.

“Hanya ada 30 mitra Bulog di Pinrang. Ini membuat serapan lambat, distribusi terkendala, bahkan Babinsa kesulitan kendaraan. Parahnya, DPRD pun tidak pernah dilibatkan dalam rapat pemantauan,” tegas Pallawagau.

Ia juga menyinggung praktik “potongan buku” yang merugikan petani. “Istilah baru ini muncul di lapangan. Ini harus dibenahi. Bulog perlu menambah mitra agar gabah petani tidak terbuang,” lanjutnya.

Kritik lain datang dari Amri Manangkasi, anggota DPRD lainnya, yang menyoroti lemahnya pengawasan dan minimnya penyuluhan hingga pelosok desa. Ia juga meminta agar instansi terkait mempercepat distribusi gabah dan menambah kapasitas gudang Bulog.

“Secara formal, harga serapan sesuai HPP tanpa potongan. Tapi di lapangan, petani justru menghadapi penolakan gabah dan harga di bawah HPP. Ini menunjukkan lemahnya sosialisasi,” katanya.

Menjawab berbagai kritik, Kepala Cabang Bulog Pinrang, Ivan Faisal, menyatakan akan menambah mitra serta meningkatkan kapasitas giling. Ia juga menegaskan bahwa Bulog tidak terlibat dalam praktik “potongan buku” yang disebut-sebut petani alami.

“Kami akan menambah mitra sesuai ketentuan, seperti memiliki penggilingan, NIB, dan surat usaha. Kapasitas giling juga akan kami tingkatkan,” ujar Ivan.

Ia menambahkan, Bulog akan melakukan verifikasi lapangan terhadap mitra dan memberi sanksi kepada pihak yang terbukti menyalahi aturan. “Kami tidak mengenal praktik itu. Kalau pun ada, kemungkinan dilakukan tengkulak. Itu di luar sistem resmi Bulog,” tutupnya.




0


Scroll to Top