-->
PINRANG – Puluhan hektare sawah di bawah kaki Gunung Paleteang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, hampir setiap tahun mengalami gagal panen. Sejumlah petani mengaku terus merugi akibat dampak dari aktivitas tambang yang beroperasi di wilayah tersebut.
Para petani menilai, aktivitas kendaraan pengangkut hasil tambang menyebabkan debu beterbangan ke lahan pertanian. Akibatnya, tanaman padi, terutama yang berada di pinggiran jalan, menjadi rusak sebelum masa panen tiba.
Tak hanya itu, limbah tambang disebut turut menutup saluran irigasi yang mengalir ke sawah petani. Kondisi tersebut diperparah saat musim hujan, ketika air dari pegunungan menyebabkan sawah mereka terendam.
“Kalau musim kemarau, debunya merusak padi. Kalau musim hujan, sawah kami tenggelam,” kata IS, salah satu petani setempat, Minggu (13/4/2025).
IS yang mengelola lahan seluas 10 are mengaku hanya mampu menghasilkan setengah karung gabah pada musim panen terakhir. “Dua hari lalu panen, cuma dapat setengah karung,” keluhnya.
Hal senada diungkapkan LT, petani lain yang memiliki dua hektare sawah di kawasan yang sama. Ia mengaku hasil panennya terus menurun sejak aktivitas tambang dimulai.
“Biasanya bisa dapat lebih dari 100 karung sekali panen. Tapi sekarang, karena ada tambang, paling banyak cuma 10 karung,” imbuh LT.
Menurutnya, selama kurang lebih 20 tahun tambang beroperasi, hampir setiap tahun ia mengalami gagal panen. “Kalau tambangnya jarang beroperasi, panennya bagus. Tapi kalau rutin jalan, pasti gagal,” paparnya.
LT juga mengeluhkan debu yang beterbangan saat padi mulai berbuah. “Kalau padi sudah berbuah, debu dari mobil tambang itu yang bikin rusak. Kami sudah berusaha maksimal, tapi tetap gagal panen. Musim kemarau dihantam debu, musim hujan dihantam banjir. Kami serba salah,” ujarnya pasrah.