-->
Ruang Opini

YAMAN: DARI PETA JALAN DAMAI KEMBALI KE TEPI PERANG

Oleh : Muhammad Ilham Nur

"Tentang janji yang tertahan, laut yang bergolak, dan perdamaian yang kehilangan rumahnya".

Ada masa ketika perang tidak lagi terdengar sebagai dentuman meriam, tetapi sebagai kesunyian yang mencurigakan. Senjata-senjata mungkin beristirahat, garis depan perlahan kehilangan kegaduhannya, dan para utusan mulai duduk berhadapan di meja perundingan. Namun, di balik ketenangan itu, sesuatu masih bergerak dalam gelap: ingatan tentang kehancuran, kecurigaan yang diwariskan dari satu pertempuran ke pertempuran berikutnya, serta kepentingan-kepentingan yang tidak pernah benar-benar meletakkan senjatanya.

Yaman pernah memasuki masa semacam itu.

Selama bertahun-tahun, negeri di ujung selatan Semenanjung Arab tersebut hidup di bawah bayang-bayang perang yang seolah tidak mengenal musim. Kota-kotanya menyimpan bekas kehancuran, jalan-jalannya menjadi saksi perpindahan manusia, dan kehidupan sehari-hari berlangsung di antara kekurangan yang terus-menerus. Di tempat seperti itu, perdamaian tidak pertama-tama hadir sebagai gagasan besar tentang masa depan. Ia hadir dalam perkara-perkara sederhana: seorang pegawai yang kembali menerima gaji, seorang pasien yang dapat melakukan perjalanan untuk berobat, sebuah kapal yang membawa barang kebutuhan pokok, atau sebuah keluarga yang tidak lagi harus mengukur hari dengan kecemasan.

Karena itu, ketika pada Desember 2023 pihak-pihak yang bertikai menyatakan komitmen untuk melanjutkan proses perdamaian, ada sesuatu yang lebih penting daripada bahasa diplomatik yang terdengar di Riyadh dan Muscat. Untuk sesaat, masa depan tampak tidak sepenuhnya tertutup.

Peta jalan perdamaian mulai dibicarakan. Gencatan senjata nasional, perbaikan kondisi kehidupan, pembayaran gaji pegawai negeri, dimulainya kembali ekspor minyak, pelonggaran pembatasan Bandara Sana’a dan Pelabuhan Hodeidah, serta pembukaan jalan-jalan yang terputus menjadi bagian dari agenda yang hendak diwujudkan. Sesudah itu, proses politik yang lebih rumit diharapkan dapat berjalan melalui dialog inklusif yang dipimpin oleh orang-orang Yaman sendiri, dengan dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Peta jalan itu bukanlah jawaban atas seluruh persoalan. Ia tidak serta-merta menghapus pertentangan politik, menyatukan faksi-faksi yang saling mencurigai, atau mengembalikan tahun-tahun yang telah dirampas perang. Namun, setidaknya, ada kesadaran bahwa tidak semua persoalan harus menunggu berakhirnya seluruh pertikaian. Ada penderitaan yang dapat dikurangi sekarang, bahkan ketika perdamaian yang utuh masih jauh dari jangkauan.

Di sanalah harapan memperoleh bentuknya yang paling manusiawi.

Bukan dalam pidato yang panjang, melainkan dalam kemungkinan bahwa kehidupan dapat bergerak kembali. Bahwa jalan yang lama tertutup dapat dilalui. Bahwa pelabuhan kembali menjadi pintu bagi kebutuhan, bukan sekadar titik dalam perhitungan strategis. Bahwa gaji yang tertunda dapat dibayarkan dan sebuah keluarga tidak lagi harus menunda makan demi bertahan sampai esok hari.

Tetapi sejarah sering kali bergerak dengan cara yang tidak menghormati harapan manusia. Ketika satu pintu mulai terbuka, pintu lain dapat terbanting oleh kekuatan yang datang dari tempat yang jauh.

Perang Gaza menjadi salah satu kekuatan itu.

Ketika kehancuran di Gaza meluas dan penderitaan rakyat Palestina menyita perhatian dunia, Sana’a menempatkan dirinya dalam pusaran konflik tersebut. Ansar Allah menyatakan dukungan kepada Palestina dan melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang dikaitkan dengan Israel di Laut Merah. Perairan yang selama berabad-abad menjadi jalur perdagangan, pertemuan kebudayaan, dan lalu lintas komoditas dunia itu berubah menjadi panggung konfrontasi yang melampaui batas-batas Yaman.

Laut tidak lagi sekadar laut. Ia menjadi pesan, ancaman, dan arena tempat kekuatan-kekuatan regional menguji pengaruh masing-masing.

Dari kejauhan, gelombang mungkin tetap tampak seperti biasa. Kapal-kapal melintasi cakrawala, angin membawa aroma garam, dan matahari terus menumpahkan cahayanya ke permukaan air. Namun, di balik pemandangan yang tampak tenang itu, setiap lintasan kapal mulai dibaca melalui kecurigaan strategis. Sebuah pelayaran dapat berubah menjadi pernyataan politik. Sebuah serangan dapat memicu operasi militer. Dan sebuah keputusan yang diambil atas nama solidaritas terhadap satu bangsa dapat membawa akibat bagi proses perdamaian bangsa lain.

Amerika Serikat dan Inggris kemudian melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran di wilayah yang dikuasai Ansar Allah sebagai respons terhadap serangan di Laut Merah. Konflik yang semula hendak diredakan melalui perundingan Yaman pun semakin terhubung dengan pertarungan yang lebih luas.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memperingatkan bahwa eskalasi terkait Gaza dan Laut Merah telah memperumit sekaligus memperlambat proses perdamaian. Peringatan itu mengandung kenyataan yang getir: sebuah negeri tidak selalu memiliki kuasa penuh atas nasib perdamaiannya sendiri. Terkadang, jalan keluar yang telah disusun dengan susah payah dapat menyempit karena peristiwa yang berlangsung jauh di luar batas wilayahnya.

Sejak saat itu, peta jalan damai mulai kehilangan kecepatannya.

Bagi Sana’a, persoalan kemanusiaan yang sebelumnya menjadi bagian dari komitmen perdamaian tidak semestinya terus ditangguhkan hanya karena konflik regional membesar. Pembayaran gaji, pembukaan bandara, kelancaran pelabuhan, dan pengurangan pembatasan terhadap rakyat Yaman merupakan persoalan yang memiliki urgensinya sendiri. Di mata mereka, kehidupan masyarakat tidak seharusnya dijadikan tawanan dari pertarungan geopolitik yang lebih luas.

Namun, dalam politik internasional, persoalan yang tampak terpisah sering kali terikat oleh benang-benang yang tidak terlihat. Gaza terhubung dengan Laut Merah. Laut Merah terhubung dengan keamanan pelayaran internasional. Keamanan pelayaran terhubung dengan kepentingan Washington dan London. Sementara itu, setiap perubahan di sekitar Sana’a turut memengaruhi kalkulasi Riyadh.

Dengan demikian, apa yang semula hendak diselesaikan sebagai persoalan Yaman perlahan menjadi bagian dari pertarungan regional yang jauh lebih rumit. Peta jalan yang dibangun untuk membawa negeri itu keluar dari perang justru harus bertahan di tengah konflik yang memperluas jangkauan perang itu sendiri.

Di sinilah perdamaian menghadapi musuh yang lebih sulit dikenali daripada pasukan di medan tempur: ketergantungan pada keadaan yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh para perunding.

Akan tetapi, api tidak hanya datang dari luar. Di dalam tubuh konflik Yaman sendiri, bara lama tetap menyala.

Ketegangan meningkat ketika pemerintah Yaman yang berbasis di Aden mengambil sejumlah langkah ekonomi terhadap bank-bank yang beroperasi dari Sana’a. Bagi Ansar Allah, langkah-langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari perang ekonomi, sebuah bentuk tekanan yang menyentuh urat nadi kehidupan masyarakat sekaligus mempersempit ruang gerak pihak yang berkuasa di ibu kota.

Dalam perang modern, tekanan tidak selalu datang melalui suara pesawat tempur atau ledakan yang mengguncang bangunan. Ia dapat hadir dalam bentuk pembatasan transaksi, kebuntuan pembayaran, gangguan terhadap arus perdagangan, dan keputusan administratif yang perlahan menjalar sampai ke dapur rumah tangga.

Perang ekonomi bekerja dengan kesunyian yang berbeda. Ia tidak selalu meninggalkan kawah di tanah, tetapi dapat meninggalkan kekosongan di meja makan. Ia tidak selalu merobohkan tembok, tetapi dapat mengikis rasa aman seseorang yang tidak tahu apakah penghasilannya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Abdulmalik al-Houthi kemudian mengancam akan menyerang bandara, pelabuhan, instalasi minyak, dan bank-bank Saudi apabila tekanan tersebut berlanjut. Ancaman itu memperlihatkan betapa rapuhnya batas antara tekanan politik dan konfrontasi militer. Apa yang dimulai sebagai langkah ekonomi dapat berkembang menjadi ancaman terhadap infrastruktur strategis; apa yang disampaikan sebagai peringatan dapat menjadi alasan bagi pihak lain untuk memperkuat kesiagaan militernya.

Situasi sempat mendekati eskalasi yang lebih besar sebelum mediasi berhasil meredakannya.

Namun, meredakan ketegangan tidak selalu berarti menyelesaikan penyebabnya. Kadang-kadang, mediasi hanya memberi waktu bagi para pihak untuk menarik napas, tanpa benar-benar menghilangkan alasan yang membuat mereka saling mengancam. Permukaan air mungkin kembali tenang, tetapi arus di bawahnya tetap bergerak dengan kekuatan yang sama.

Begitulah keadaan gencatan senjata Yaman. Ia masih dapat dipertahankan, tetapi fondasinya semakin terbebani oleh persaingan politik, tekanan ekonomi, konflik regional, dan ketidakpercayaan yang belum menemukan jalan keluar.

Perdamaian, dalam keadaan demikian, menyerupai sebuah jembatan yang terus digunakan sementara penyangganya perlahan terkikis. Orang-orang masih dapat melintas di atasnya, dan dari kejauhan bangunannya mungkin tetap tampak utuh. Namun, setiap beban baru membuat pertanyaan tentang ketahanannya semakin mendesak.

Lalu datanglah persoalan Bandara Sana’a.

Bandara itu bukan sekadar titik keberangkatan dan kedatangan pesawat. Dalam sebuah negeri yang lama terkurung konflik, bandara adalah lambang hubungan dengan dunia luar. Ia merupakan kemungkinan bagi seseorang untuk berobat, bagi sebuah keluarga untuk bertemu kembali, bagi bantuan untuk mencapai mereka yang membutuhkan, dan bagi masyarakat yang terisolasi untuk merasakan bahwa dunia belum sepenuhnya menutup pintunya.

Ketika akses udara menjadi bagian dari pertarungan, yang dipertaruhkan bukan hanya ruang di langit, melainkan juga makna keterhubungan itu sendiri.

Dalam perkembangan yang digambarkan dalam rangkaian peristiwa tersebut, ketegangan meningkat setelah serangan terhadap Bandara Sana’a yang oleh Ansar Allah dikaitkan dengan upaya menghalangi penerbangan Iran yang membawa delegasi menuju Yaman. Sana’a kemudian merespons dengan serangan ke wilayah Saudi, termasuk Bandara Abha.

Pada titik itu, garis pemisah antara tekanan dan perang kembali menipis. Hubungan yang sebelumnya masih dapat dikelola melalui ancaman, perundingan, dan mediasi kembali bergerak menuju konfrontasi militer langsung.

Sebuah bandara, yang seharusnya menghubungkan manusia dengan tempat-tempat yang jauh, kembali menjadi bagian dari logika pemisahan. Sebuah penerbangan memperoleh makna strategis. Sebuah serangan melahirkan serangan balasan. Dan di antara keputusan-keputusan itu, ruang bagi kehidupan biasa semakin menyempit.

Di sinilah seluruh rangkaian peristiwa sebelumnya menemukan hubungannya.

Bagi Sana’a, eskalasi tersebut tidak dipandang sebagai perang baru yang berdiri sendiri, melainkan sebagai kelanjutan dari tekanan yang dianggap telah menghambat komitmen perdamaian. Bagi Riyadh, persoalannya jauh lebih kompleks. Keamanan perbatasan, stabilitas Laut Merah, hubungan dengan Washington, perang Gaza, dan kepentingan ekonomi Saudi kini saling bertaut dalam satu jaringan pertimbangan yang sulit dipisahkan.

Kedua pihak bergerak di dalam peta ancaman yang berbeda. Apa yang oleh satu pihak dianggap sebagai pembelaan atau respons terhadap tekanan dapat dibaca oleh pihak lain sebagai ancaman langsung terhadap keamanannya. Ketika persepsi semacam itu mengeras, tindakan yang diklaim bersifat defensif dapat memicu serangan balasan, sementara serangan balasan memperkuat keyakinan bahwa ancaman memang nyata.

Perang kemudian membangun lingkarannya sendiri.

Ia membuat setiap pihak merasa perlu bertindak demi mencegah bahaya, tetapi tindakan itulah yang justru memperbesar bahaya bagi pihak lain. Ia menciptakan kebutuhan akan keamanan dengan cara yang terus-menerus merusak rasa aman. Dan ketika semua pihak mulai mengukur keselamatan berdasarkan kemampuan lawan untuk menahan diri, perdamaian berubah menjadi sesuatu yang bergantung pada ketidakpastian.

Barangkali di situlah tragedi terbesar konflik Yaman: bukan hanya bahwa para pihak gagal mencapai kesepakatan, melainkan bahwa bahkan ketika kesepakatan mulai terbentuk, mereka tetap hidup di dalam struktur ketakutan yang membuat kesepakatan itu mudah terguncang.

Meski demikian, Yaman tidak dapat dipahami hanya sebagai arena pertikaian antarkelompok yang bersaing memperebutkan kekuasaan.

Di balik konflik internal terdapat lapisan regional yang menentukan arah dan intensitasnya. Saudi merupakan pendukung utama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Amerika Serikat dan Inggris terlibat dalam konflik yang berkaitan dengan keamanan pelayaran di Laut Merah. Iran menjadi pendukung Sana’a. Sementara perang Gaza telah mengubah keseimbangan perhatian, kepentingan, dan tekanan politik di kawasan.

Setiap kekuatan datang dengan kepentingannya sendiri, bahasanya sendiri, serta definisinya sendiri tentang keamanan. Namun, seluruh kepentingan itu bertemu di sebuah negeri yang rakyatnya telah terlalu lama menanggung akibat dari pertarungan yang tidak selalu mereka tentukan.

Yaman, dalam keadaan seperti itu, menjadi semacam cermin yang memperlihatkan paradoks politik internasional. Banyak pihak berbicara tentang stabilitas, tetapi langkah-langkah yang diambil untuk menjamin stabilitas dapat memperbesar ketidakstabilan. Banyak pihak menghendaki keamanan, tetapi cara mereka mempertahankan keamanan terkadang menciptakan ancaman baru. Banyak pihak menyatakan dukungan terhadap penyelesaian konflik, tetapi kepentingan strategis mereka dapat membuat proses penyelesaian itu kehilangan ruang geraknya.

Tidak berarti bahwa seluruh pihak memiliki tanggung jawab yang sama atau bahwa perbedaan antara tindakan mereka dapat diabaikan. Konflik memiliki sejarah, keputusan, dan tanggung jawab yang harus dinilai secara cermat. Namun, memahami perang Yaman menuntut kesediaan untuk melihat bagaimana tindakan-tindakan yang berbeda saling berhubungan, bagaimana keputusan yang dibuat di satu tempat menimbulkan akibat di tempat lain, dan bagaimana rakyat biasa sering kali menjadi pihak yang paling sedikit memiliki kendali atas keseluruhan keadaan.

Sebab bagi masyarakat yang hidup di bawah bayang-bayang perang, geopolitik bukanlah sekadar garis pada peta atau persaingan di meja diplomasi. Geopolitik adalah harga kebutuhan pokok, kesempatan bekerja, akses terhadap pelayanan kesehatan, dan kepastian apakah sebuah perjalanan dapat ditempuh tanpa ketakutan.

Peta dunia mungkin dibagi menurut wilayah pengaruh. Akan tetapi, penderitaan tidak mengenal batas-batas yang digambar oleh para ahli strategi. Ia memasuki rumah-rumah, menyentuh kehidupan anak-anak, mengubah nasib keluarga, dan menetap dalam ingatan orang-orang yang kehilangan sesuatu yang tidak dapat dikembalikan oleh kesepakatan apa pun.

Karena itu, ketika pembicaraan tentang perdamaian kembali terdengar, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya siapa yang memperoleh keuntungan politik, siapa yang kehilangan pengaruh, atau siapa yang berhasil mempertahankan posisi tawarnya. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah seluruh perhitungan itu akhirnya membuka ruang bagi manusia untuk kembali menjalani kehidupannya.

Menariknya, bahkan ketika bahasa perang kembali mengeras, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Upaya Utusan Khusus PBB untuk mempertahankan ruang negosiasi menunjukkan bahwa proses perdamaian belum kehilangan seluruh pijakannya. Dalam perkembangan yang disebutkan untuk Juli 2026, pembicaraan kembali dilakukan di Riyadh dan kemudian dilanjutkan ke Muscat, dengan tujuan mempertahankan capaian gencatan senjata 2022 serta mencegah eskalasi regional menghancurkan ruang politik Yaman.

Muscat kembali menjadi tempat perundingan, Riyadh tetap menjadi bagian penting dari kalkulasi politik, dan Sana’a terus berada di pusat persoalan yang belum menemukan penyelesaian. Nama-nama kota itu mungkin terdengar seperti titik-titik biasa pada peta, tetapi masing-masing menyimpan lapisan sejarah, harapan, kecurigaan, dan kepentingan.

Diplomasi bekerja di antara semua itu. Ia tidak memiliki daya ledak seperti senjata dan tidak selalu memberikan hasil yang dapat segera dilihat. Terkadang, keberhasilannya hanya berupa sebuah serangan yang tidak jadi dilancarkan, sebuah pertemuan yang tetap berlangsung, atau sebuah saluran komunikasi yang tidak dibiarkan terputus.

Bagi orang yang menginginkan perubahan seketika, hasil semacam itu mungkin tampak terlalu kecil. Namun, di tengah konflik yang telah lama mengajarkan manusia untuk saling mencurigai, mempertahankan komunikasi bukanlah pekerjaan sepele. Ia merupakan upaya untuk memastikan bahwa lawan masih dapat dipandang sebagai pihak yang bisa diajak berbicara, bukan semata-mata sebagai sasaran yang harus dilumpuhkan.

Meski begitu, diplomasi tidak boleh menjadi alasan untuk mempertahankan keadaan yang terus melahirkan penderitaan. Sebuah proses perundingan hanya memiliki arti jika ia bergerak menuju perubahan nyata. Meja perundingan bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mengubah keadaan di luar ruangan: membuka akses, mengurangi pembatasan, melindungi warga sipil, memulihkan kehidupan ekonomi, dan membangun mekanisme politik yang memungkinkan perselisihan diselesaikan tanpa kekerasan.

Perdamaian tidak cukup diumumkan. Ia harus dialami.

Ia harus terasa dalam perjalanan yang kembali aman, dalam penghasilan yang dibayarkan, dalam barang-barang yang tersedia di pasar, dalam pintu rumah sakit yang terbuka, dan dalam malam ketika keluarga dapat tidur tanpa menunggu kabar tentang serangan berikutnya.

Jika perubahan-perubahan itu tidak hadir, maka bahasa perdamaian akan terdengar semakin jauh dari kenyataan. Ia akan menjadi bunyi yang berulang di ruang diplomasi, sementara kehidupan masyarakat tetap terperangkap dalam keadaan yang sama.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang Yaman bukan sekadar mengapa perang kembali mendekat. Pertanyaan yang lebih penting ialah bagaimana sebuah proses yang semula bergerak menuju perdamaian dapat perlahan kehilangan kemampuannya untuk melindungi dirinya sendiri.

Peta jalan pernah disusun. Komitmen kemanusiaan pernah dirumuskan. Ada harapan bahwa persoalan-persoalan mendasar dapat diselesaikan satu demi satu, sekalipun pertikaian politik belum sepenuhnya berakhir. Namun, perang Gaza mengubah lanskap regional. Laut Merah menjadi medan konflik baru. Tekanan ekonomi memperuncing ketegangan. Ancaman terhadap infrastruktur strategis mempersempit ruang kompromi. Persoalan Bandara Sana’a kemudian menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang mendorong Sana’a dan Riyadh kembali mendekati konfrontasi langsung.

Tidak ada satu peristiwa yang dapat menjelaskan keseluruhan keadaan. Setiap kejadian memperoleh maknanya dari kejadian-kejadian sebelumnya, sementara akibatnya membuka kemungkinan bagi eskalasi berikutnya. Perang bukan hanya rangkaian tindakan yang berdiri sendiri, melainkan juga hubungan sebab-akibat yang terus dipelihara oleh ketidakpercayaan, kepentingan, dan kegagalan mengendalikan dampak dari keputusan masing-masing pihak.

Karena itu, menyebut keadaan ini sebagai sekadar kembalinya perang tidaklah cukup. Yang sedang terlihat adalah rapuhnya sebuah proses politik ketika berhadapan dengan konflik yang melampaui batas-batasnya. Perdamaian Yaman tidak hanya diuji oleh perbedaan antara pihak-pihak yang bertikai di dalam negeri, tetapi juga oleh kemampuan kekuatan regional dan internasional untuk menahan kepentingan mereka agar tidak terus mempersempit ruang penyelesaian.

Barangkali perdamaian memang tidak pernah benar-benar gagal sebagai gagasan. Yang berulang kali gagal adalah kemampuan manusia untuk menjaga gagasan itu ketika kepentingan mulai berbicara lebih keras daripada kesediaan untuk berkompromi.

Gagasan perdamaian dapat dirumuskan di ruang pertemuan, dituangkan ke dalam dokumen, dan disampaikan melalui pernyataan resmi. Namun, mempertahankannya membutuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada menyepakati kata-kata: keberanian untuk menahan diri ketika ada kesempatan menyerang, kesediaan untuk memenuhi komitmen ketika keadaan tidak sepenuhnya menguntungkan, serta kemampuan membedakan kepentingan strategis dari kebutuhan dasar manusia.

Perdamaian juga membutuhkan perlindungan dari konflik-konflik yang lebih besar. Jika setiap perubahan di Gaza dapat mengguncang Laut Merah, setiap ketegangan di Laut Merah dapat menghambat proses politik Yaman, dan setiap perselisihan ekonomi dapat membawa Sana’a dan Riyadh kembali ke ambang perang, maka peta jalan damai akan selalu berada dalam bahaya.

Sebuah jalan tidak menjadi aman hanya karena telah digambar. Ia harus dijaga agar tidak tertutup oleh reruntuhan yang datang dari arah lain.

Dan Yaman, negeri yang telah begitu lama berjalan di antara reruntuhan itu, masih membutuhkan jalan tersebut.

Ia membutuhkan lebih dari sekadar jeda di antara dua pertempuran. Ia membutuhkan suatu keadaan ketika rakyatnya tidak lagi menjadi sandera dari persaingan regional; ketika urusan gaji, pelabuhan, bandara, dan pelayanan dasar tidak terus-menerus dipertaruhkan oleh pertentangan politik; ketika pihak-pihak yang berkuasa dapat menerima bahwa kemenangan yang dibangun di atas ketidakamanan berkepanjangan tidak akan pernah benar-benar menjadi kemenangan.

Sebab, pada akhirnya, tidak ada negara yang sungguh-sungguh aman apabila perdamaian di sekelilingnya hanya dapat dipertahankan melalui ancaman. Tidak ada kemenangan yang sepenuhnya utuh apabila kehidupan masyarakat terus membayar harga dari pertarungan para penguasa. Dan tidak ada peta jalan yang akan membawa manusia menuju masa depan apabila mereka yang memegang kendali terus-menerus mengubah arah setiap kali angin politik berganti.

Jalan menuju perdamaian di Yaman pernah terbuka. Kini, jalan itu kembali dipenuhi bayang-bayang perang.

Pertanyaannya bukan lagi apakah jalan tersebut pernah ada, melainkan apakah mereka yang memiliki kuasa untuk menjaganya masih bersedia melangkah ke arahnya.

Riyadh, Sana’a, pemerintah Yaman, dan kekuatan-kekuatan regional maupun internasional yang memengaruhi negeri itu masih memiliki pilihan. Mereka dapat membiarkan setiap krisis menjadi alasan bagi konfrontasi berikutnya, atau mulai memutus lingkaran yang membuat setiap jeda perang hanya menjadi persiapan bagi perang yang lain.

Pilihan itu tidak akan menghapus seluruh pertentangan. Perdamaian bukan keadaan tanpa perbedaan, sebagaimana sejarah bukan kisah yang selalu bergerak lurus menuju kemajuan. Namun, pilihan tersebut dapat menentukan apakah perbedaan akan terus diselesaikan melalui kekerasan atau mulai ditempatkan di dalam ruang politik yang memberi kehidupan kesempatan untuk pulih.

Di Yaman, barangkali harapan tidak lagi hadir sebagai keyakinan yang utuh. Ia lebih menyerupai cahaya kecil di ujung lorong panjang, sesekali tertutup debu, terkadang nyaris tidak terlihat, tetapi belum sepenuhnya padam.

Menjaganya bukan pekerjaan satu pihak saja. Ia menuntut perubahan cara pandang: bahwa keamanan tidak dapat dibangun dengan terus-menerus memproduksi ketakutan, bahwa solidaritas tidak harus berakhir dengan kehancuran yang lebih luas, dan bahwa kepentingan nasional tidak seharusnya meniadakan hak bangsa lain untuk hidup tanpa perang.

Sebab, jika setiap jalan menuju perdamaian selalu dibiarkan runtuh oleh konflik di sekelilingnya, maka yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukanlah penyelesaian, melainkan sebuah lingkaran yang sama: perundingan, harapan, kebuntuan, ancaman, serangan, lalu perundingan kembali.

Dan di dalam lingkaran itu, waktu terus berjalan, sementara kehidupan manusia tertahan.

Yaman tidak kekurangan alasan untuk berdamai. Yang belum ditemukan adalah kesediaan yang cukup kuat untuk menempatkan perdamaian di atas dorongan untuk membalas, menekan, atau memperluas pengaruh.

Mungkin di situlah ujian sesungguhnya bagi Riyadh dan Sana’a. Bukan sekadar siapa yang dapat bertahan lebih lama, siapa yang memiliki daya gentar lebih besar, atau siapa yang berhasil memaksakan kehendaknya. Melainkan siapa yang bersedia mengakhiri keadaan ketika kemenangan satu pihak selalu terasa seperti ancaman bagi pihak lain.

Karena sejarah tidak hanya akan mengingat siapa yang melancarkan serangan dan siapa yang membalasnya. Sejarah juga akan mencatat siapa yang memiliki kesempatan untuk menghentikan lingkaran kekerasan, tetapi memilih membiarkannya terus berputar.

Di antara debu reruntuhan, jalur-jalur yang terputus, dan laut yang kembali menjadi medan persaingan, pertanyaan itu tetap menggantung di atas Yaman:

Jika jalan menuju perdamaian telah ditemukan, mengapa manusia terus memilih jalan yang membawanya kembali ke tepi perang?




0


Scroll to Top